Lindungi anak-anak dari bahaya kejahatan….

Waahh.. ternyata lama juga saya nggak nulis-nulis disini, setelah dicek ulang terakhir nulis bulan juli berarti saya sudah melewatkan 3 bulan untuk sharing ilmu. Lama nggak nulis bukan berarti saya tak ada atau malas nulis lho, cuman meluangkan waktu untuk sekedar berbagi disela-sela tugas akhir bagi seorang mahasiswi itu butuh fokus kemauan.  Hehehe… (alasanitumemangtakadahabisnya) 😀

Topik kali ini tentang kekerasan perempuan dan anak.  Jujur saja,,, saya sering miris melihat kasus kekerasan yang terjadi di Negara tercinta ini. Berita tentang kekerasan tak ada habis-habisnya diliput oleh media nasional maupun swasta. Seperti berita redaksi sore tanggal 19 oktober 2013 di Trans TV, seorang balita 9 bulan tewas akibat pelecehan seksual dari sang kakek. Antara syok dan tidak percaya tapi itu benar-benar terjadi.  Jelas saja saya tidak percaya, bayi 9 bulan itu pasti masih lucu-lucunya. Kok bisa mendapat perlakuan kekerasan seksual??? Memangnya bayi 9 bulan sudah menarik hasrat seksual? Astaghfirullah….

Terlepas dari kakek yang dicurigai sebagai tersangka, tapi sungguh kasus ini sangat-sangat diluar logika saya.  Dilihat dari sudut pandang psikologis, bayi usia 0 – 1,5 tahun masuk dalam kategori masa oral. Yaitu bayi dapat merespon kebutuhannya hanya melalui area mulut seperti saat lapar menangis, pipis juga menangis, ketakutan juga menangis. Dimana seorang anak dimasa perkembangannya tersebut sangat bergantung dengan orang lain khususnya ibunya. Anak membutuhkan perlindungan, perawatan, dan kasih sayang.  Dari situlah anak baru belajar tentang kepercayaan.  Ketika seorang anak merasa nyaman dalam pelukan ibu, ia yakin bahwa dirinya aman dari gangguan.

Melihat dari kasus diatas, jika si kakek memang benar tersangka utamanya sungguh ini perilaku biadab. Dimana si kakek semestinya menjadi pelindung, memberikan kasih sayang, tapi malah merusak bahkan kejam terhadap generasinya sendiri.  Ini jelas kasus abnormal, perlu adanya pemeriksaan kejiwaan bagi si kakek.  Tapi perlu diketahui, meski ia memiliki gangguan kejiwaan namun tetap ada sanksi hukum.

Kasus ini penting menjadi perhatian kita semua, dimana anak-anak dan perempuan seringkali menjadi korban kekerasan seksual.  Orangtua hendaknya lebih waspada meskipun dengan anggota keluarga sendiri. Kesannya memang aneh, karena mestinya anggota keluarga saling melindungi dan menjaga. Tapi fenomena yang terjadi, kasus kekerasan pada anak seringkali terjadi melibatkan anggota keluarga terdekat. Soo,,, jagalah keluarga Anda sebaik mungkin, jangan sembarang menitipkan anak. Berikan bekal ilmu agama dan pemahaman tentang moral yang cukup pada setiap anggota keluarga.  Pastikan anak Anda berada dalam penjagaan yang baik dari pengasuhnya dan lindungi anak-anak dari segala macam kejahatan orang dewasa maupun kejahatan dari lingkungannya.